Senin, 09 Mei 2011

“ TUMBANG NAPOI DALAM SEBUAH KENANGAN”

Tumbang Napoi adalah nama sebuah Desa dan sekaligus sebagai ibukota Kecamatan Miri Manasa Kabupaten Gunung Mas Provinsi Kalimantan Tengah jarak dari Kota Kuala Kurun 160 Km (5 Jam lewat sungai menggunakan Kelotok mesin domping) sedangkan dari Kota Palangka Raya ke Kuala Kurun 168 Km.

Sebagai Desa pemekaran dari Kecamatan Induknya yaitu Tumbang Miri Kecamatan Kahayan Hulu Utara mempunyai potensi wilayah yang sangat besar, namun sangat disayangkan akses ke Tumbang Napoi yang paling mudah sampai dengan Tahun 2011 ini masih menggunakan jalur sungai karena jalan darat sangat sulit dan harus berputar melewati jalan Perusahaan HPH PT. Domas Raya melalui Desa Tumbang Masukih (daerah Hulu dari Tumbang Napoi), adapun Gambaran Umum Wilayah Kecamatan yaitu sebgai berikut :

1. Keadaan Wilayah

Secara administratif Pemerintah Kecamatan Miri Manasa memiliki 11 (sebelas) wilayah Desa yaitu berdasarkan Luasan per Desa Tahun 2006 memiliki wilayah seluas ± 1.542 Km2 , secara geografis Kecamatan Miri Manasa berbatasan dengan :

- Sebelah Utara dengan Kabupaten Murung Raya.

- Sebelah Timur dengan Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Murung Raya.

- Sebelah Selatan dengan Kecamatan Kahayan Hulu Utara.

- Sebelah Barat dengan Kecamatan Damang Batu.

Keadaan Topografi Kecamaan Miri Manasa, merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian antara 100 – 500 m DPL, dengan tingkat kemiringan 8 – 15 0 (derajat).

2. Sosial Ekonomi

Pada tahun 2007 penduduk Kecamatan Miri Manasa berjumlah 3.268 jiwa terdiri dari 1.656 jiwa laki – laki dan 1.612 jiwa perempuan, sebagaian besar penduduk bermata pencaharian berusaha dibidang usaha tani yaitu berladang, menyadap karet, pedagang,berternak, menangkap ikan, mengumpul hasil hutan, penambang emas dan Pegawai Negeri. Untuk menunjang kelancaran aktifitas perekonomian di daerah Kecamatan Miri Manasa didukung oleh transportasi sungai yaitu : Speed Boat, Kapal dll, baik melalui Sungai Kahayan, Sungai Miri dan Sungai Hatung. Selain transportasi air ada juga transportasi darat melewati jalan perusahaan melewati Tumbang Masukih, jadi Kecamatan Miri Manasa cukup terbuka dan menjanjikan untuk peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat pada masa yang akan datang.

3. Potensi Daerah

Potensi Sumber Daya Alam yang terdapat di Kecamatan Miri Manasa baik yang sudah dan belum di eksploitasi yaitu Bidang :

a. Bidang Kehutanan meliputi : Kayu, Karet, Rotan, Damar, Gaharu, Getah Jelutung, Buah Tengkawang, Madu, Kulit Gemur, Sarang Burung Walet, Anggrek Hutan, Kulit Binatang, dan Flora dan Fauna.

b. Bidang Pertambangan dan energi meliputi : Bahan galian C, Batu Bara dsb.

c. Bidang Wisata : Pesona Bukit Surga, Riam Sungai, Pesona Bukit Tuta Caru dll.

Adapun jenis tanah yang dominan diwilayah Kabupaten Gunung Mas yaitu Podsolik Merah Kuning, ini sangat cocok dikembangkan usaha perkebunan. Disamping potensi tersebut dapat juga dikembangkan obyek wisata alam / hutan lindung seperti Arung Jeram, Bukit Surga dan Tuta Caru.

Demikian sebagai gambaran wilayah Tumbang Napoi secara umum, adapun secara khusus dapat kami sampaikan di bagian selanjutnya.

7 (TUJUH) BULAN DI TUMBANG NAPOI

Bulan september 2007 merupakan bulan pertama penugasan sebagai abdi di Kecamatan Miri Manasa, sangat banyak hal yang tak terlupakan dalam menjalani tugas disana.

Memang sangat berat tugas di ujung wilayah yang terisolir karena jauh dari keluarga dan anak-anak yang masih kecil ditambah lagi tiada fasilitas yang memadai untuk komunikasi langsung dengan keluarga karena keterbatasan sebagai daerah pemekaran itu info awal dari kawan-kawan yang pernah kesana.

Info teman yang cukup akurat tidak menyurutkan langkah saya untuk berangkat dari Kuala Kurun jam 09 wIB (walau diawal september keberangkatan tertunda karena radang usus buntu menyerang yang akhirnya harus dioperasi tapi itulah hidup yang harus dijalani), sekitar bulan Nopember akhirnya saya baru bisa berangkat ke Tumbang Napoi bersama Pak Camat sewaktu itu dijabat oleh Pak Drs. Denar Uan (banyak2 terima kasih kepada Bp. Camat Yang telah memberikan izin sakit kepada saya).

Keberangkatan hari pertama ke Tumbang Napoi sangat mengesankan karena kondisi sungai cukup dalam, pasukan pada saat itu di komandoi oleh Pak Camat yang langsung sebagai kemudi kelotok, Bu Camat, Anwar, Pridledi dan saya sendiri, sampailah dipersimpangan Sungai Tumbang Miri dan Sungai Kahayan disini ada hal yang kontras terjadi antara SUB DAS Sungai Miri dengan DAS Sungai Kahayan bertemu karena air dari SUB DAS Sungai Miri sangat Jernih dan Kondisi DAS Sungai Kahayan sangat keruh.

Sehubungan Arah Tumbang Napoi harus mengikuti DAS S.Miri maka kita mengambil Arah Kanan setelah istirahat sejenak untuk mengisi perut yang keroncongan, Syukur sekali kita menyusuri sungai Miri karena pemandangan air yang bisa tembus pandang sampai dasar sungai sehingga terlihat ikan-ikan kecil.

Lama perjalanan dari Tumbang Miri sampai ke Tumbang Napoi sekitar 2,5 Jam disepanjang sungai cukup banyak riam sehingga kelotok lah yang cocok untuk sampai ke tujuan, setelah beberapa Desa terlalui akhirnya sampai jualah ke Tumbang Napoi waktu itu jam menunjukan jam 6 WIB lebih.

Begitu menginjakan kaki di Pelabuhan Kecamatan yang sederhana serasa tidak percaya seakan-akan kembali mundur 40 Tahun kebelakang, karena kondisi Desa sudah sepi dan tidak ada listrik seperti di Kota-kota di Jawa pada umumnya, memang ada beberapa penduduk yang sudah mampu membeli generator set sebagai alat penerangan.

Hari demi hari dilalui,ada waktu senggang setelah ngantor diisi dengan kegiatan memancing dan menikmati pemandangan alam yang sangat indah,air sungai yang sangat jernih karena tidak ada penambang emas ataupun kegiatan yang mengakibatkan erosi tanah, bukit-bukit menjulang tinggi, sumber makanan tersedia, hewan buruan masih banyak,ikan sungai cukup melimpah, semua tersedia dan alam menyediakannya hal ini cukup menggoda saya untuk berpetualang dan menikmatinya.

Selama menikmati kehidupan baru, tetap juga perlu komunikasi adapun HP satelit tapi kondisinya rusak terkena sambaran petir, sehingga Radio panggil merupakan salah satu alat komunikasi yang handal untuk digunakan, tapi bagaimana caranya menghubungi keluarga di Palangka Raya, akhirnya saya berunding dengan teman-teman agar dapat komunikasi dengan keluarga di Palangka Raya, dengan ide konyol kami meminta no HP operator Radio untuk menghubungi keluarga di Palangka Raya yang kemudian disambungkan ke Radio panggil walhasil tersambung walaupun percakapan kami terdengar oleh semua operator seluruh Kecamatan.

Komunikasi dengan cara sambung menyambung lumayan bisa mengobati rasa rindu terhadap keluarga, tapi hal demikian tidak puas suatu saat karena jam-jam tertentu saja kita berkomunikasi yaitu jam 09 pagi dan jam 11 siang. Saya dengan teman-teman yaitu anwar dan bp irma mencoba naik bukit/ puruk yang tidak terlalu tinggi, karena Daerah Tumbang Miri ada sinyal Telkomsel maka kamipun mencobanya naik, perjalanan cukup ditempuh 10 menit ke arah hulu dari tumbang napoi, kemudian jalan kaki membuat jalan rintisan agar sampai ke punck kurang lebih 1 jam sampai ke puncak, kami pun istirahat sejenak sekedar melepas dahaga.

Setelah istirahat kami ber 3 mencoba mencari sinyal Telkomsel dan begitu dibuka Syukur Alhamdulillah sinyal cukup kuat dan bagus, kamipun sungguh senang karena sebagai orang pertama yang berhasil menemukan sinyal untuk komunikasi tapi sayang baterai hp lemah karena tidak pernah di ces dan tak pernah dipake. Kegembiraan ini kami sampaikan kepada Pak Camat dan penduduk Kampung, sampai sekarang tempat itu merupakan tempat komunikasi warga.

Selama berada disana banyak hal yang sangat mengesankan bisa mancing sepuasnya sampai menginap di pondok penduduk (eks Base Camp HPH Domas Raya tahun 1990 an yang akhirnya sekitar awal Tahun 2000 terjadi kebakaran Base Camp). Saking senangnya mancing kelotok yang ditumpangi rusak akhirnya kelotok diikat dekat pondok penduduk, anwar dan pridledipun pasrah menunggu esok hari, karena kami khawatir 2 orang tersebut belum pulang diutuslah bp irma tuk menyusul dan menjemput mereka dengan ketinting kecil.

Sangat disayangkan dengan adanya alat modern sekarang ini warga memakai setrum untuk mencari ikan guna mendaptkan hasil tangkapan yang banyak, pdhl sangat merugikan ekositem dan populasi ikan.

Ada sebuah kisah yang tidak terlupakan yaitu ketika hendak melaksanakan rapat di Kuala Kurun sebagai Ibukota Kabupaten, dengan menggunakan kelotok tumpangan punya penduduk sayapun ikut sampai Kuala Kurun, dalam perjalanan menuju Tumbang Miri sinyal HP pun mulai nampak, satu per satu sms masuk sayapun coba menghubungi keluarga di Palangka Raya tak disangka dan diduga ternyata anak saya yang pertama sdh di Rumah Sakit 2 hari, hatipun sudah tak tenang ingin cepat sampai saja ke Kuala Kurun, untung waktu itu sekitar jam 4 sore sehingga kendaran ke Palangka Raya masih ada, dan tak pikir panjang begitu sampai langsung mencari kendaran menuju Palangka Raya, rapatpun batal karena ini sdh tugas maka saya lapor untuk izin tidak mengikuti rapat.

Sampai di Palangka Raya menuju RSUD Dorys Sylvanus sepanjang perjalanan kami bercerita dengan sopir, saya hanya sekedarnya saja tidak banyak cerita karena konsentrasi memikirkan kondisi anak, tetapi sopir itu bercerita tentang persis yang saya alami sekarang, saya hanya diam, begitu sopir bertanya “turun dimana” sy jawab “di Rumah sakit” diapun kaget “siapa yang sakit katanya”,anak saya pak sopir jawab saya” diapun akhirnya terdiam dan bilang “kenapa ga bilang dari tadi bisa saya antar duluan” tidak mutar-mutar dulu mengantar yang lain. Tapi sudahlah itu kenangan semasa tugas di Tumbang Napoi walau sebentar tetapi bermakna.

Dibalik cerita itu semua ada sebuah rahasia yang teruangkap yaitu cita-cita saya selagi SLTA dulu menginginkan sebagai Kepala Desa,kini terjawab sudah karena saya tugas di Kecamatan membawahi Kepala Desa-Kepala Desa yang ada.

Demikian sekelumit kisah suka, duka sebagai abdi pemerintahan yang bisa ditugaskan di pelosok dengan gaji yang sama tapi tugas dan tanggungjawab bahkan resiko hiduppun berbeda, semoga cerita ini bisa bermanfat bagi kita semua.


Tidak ada komentar: